Banner

Hidup Mengajariku

Photobucket

   Hidup mengajariku dua langkah dalam menyasati manusia. Satu langkah kuikuti dalam hal apa yang bisa kudapatkan dari orang lain, dan satunya lagi kuikuti dalam hal apa yang bisa didapatkan perasaanku pada suatu yang tidak bermanfaat, dan aku pun memulai tahu bagaimana berhemat menafkahkan kekayaan hidup.

   Adapun langkahku dalam hal yang bisa kudapatkan dari orang lain adalah menerima watak dan perilaku mereka sebagai suatu kesatuan. Aku tidak membeda-bedakan mereka berdasarkan perbedaan individual. Semula ciptaan yang satu bagiku menyayatkan rasa sakit dan putus pengharapan puluhan bahkan ratusan kali. Dan setiap kali aku meresa benturan yang datang tiba-tiba, sepertinya kau menyibak suatu yang baru dan belum pernah terbayangkan sebelumnya.

   Kemudian bersama waktu aku membiasakan diri menjadi bagi semua orang yang satu perhitungan dalam perimbangan kasat dan kerugian. Kerugian pun setidaknya banyak menurun. Inilah sebenarnya pencariannya yang dijanjikan. Aku mencoba mengumpulkan perilaku pada jenis-jenisnya dan masing-masing ku beri judul; pada manusia ada kebodohan, pada manusia ada kekurangan, pada manusia pertentangan dan hal-hal aneh, dan sebagainya seperti yang kita warisi secara turun temurun. Di situ tidak ada yang baru, dan pastinya adanya pada manusia.

   Jika aku mendapatkan suatu yang mengeruhkan dari orang lain, aku kembali membawanya kepada judulnya. Ternyata kutemukan ia terdaftar disitu. Yang tidak pernah kutunggu tidak membuatku kaget. Pada manusia ada pengaruh pada manusia ada kekurangan. Memang. Betul. Lalu, ada apa sebelumnya?! Ya, aku sudah mengetahuinya berkali-kali. Lantas mengapa harus merasa aneh? Mengapa harus mengeluh dan mengaduh?

   Lama kuamati diriku. Kuletakkan diriku dalam daftar. Aku pun tahu, ternyata dalam diriku ada juga watak dan prilaku seperti yang dimiliki orang lain. Maka, setiap kali mendapatkan perilaku semacam itu dari orang lain selalu kukatakan,”Engkau juga begitu”. Dengan demikian, tidak perlu diperhitungkan dan tidak pula harus mencaci orang lain.

   Nah, adapun langkahku dalam hal yang bisa didapat orang laindariku adalah menanyakan diriku sendiri setiap kali merasa benci dan mengeritik mereka, “apakah hal ini berarti bagiku?”. Dalam arti kata, “apakah kehilangan ridha mereka membuatku untung? Dan apakah kehilangan itu membuatku rugi?”. Jika mengandung untung dan rugi, berartihal itu bermanfaat bagiku. Aku harus mengatasinya sebisa mungkin tetapi jika tidak, aku tidak perlu mencapai dan berkurban.

   Aku selalu menghandalkan standar praktis, karena lari mengejar teori tiada akan berkesudahan. Maka, didepanku selalu kuletakkan lima atau enam sosok orang yang kukenal. Kutahu mereka tergolong ashhabul khuthwah (teladan) bagi orang lain. Pun bahwa orang-orang tidak menbenci dan mengeritik mereka. Dan aku bertanya,? “apakah engkau suka menjadi seperti mereka? Suka mendapatkan keridhaan sebagaimana yang mereka raih?”.

   Jawaban atas pertanyaan ini selalu member manfaat bagiku. Sebab, demikian itu menentukan tindakan yang harus kuambil. Atau, membebaskanku dari setiap pekerjaan. Pertanyaan itu pulalah yang menjelaskan kepadaku dalam banyak kesempatan bahwa keridhaan dan pujiaan adalah mata uang palsu, atau mata uang yang sebenar-benarnya.
                                      
                                 Selamat membaca semoga bermanfaat

Ditulis Oleh : Aflah // 17:19
Kategori:

11 comments:

  1. Dapat banyak pelajaran di sini sahabat

    ReplyDelete
  2. @Blog Keperawatan : makasih gan.

    ReplyDelete
  3. Wah artikel bagus sob, updatenya ditunggu lgi sob...

    ReplyDelete
  4. Pengalaman memang guru yang terbaik ya gan,

    :)

    ReplyDelete
  5. @Media-Mimpi :makasih gan.

    @Majalah Siantar : ya benar tu gan.

    ReplyDelete
  6. pengalaman adalah guru terbaik, begitupun hidup mengajari kita untuk menjadi yang terbaik

    ReplyDelete
  7. @Asis Sugianto : benar gan.
    makasih udah mau berkunjung.

    ReplyDelete
  8. mari kita belajar dan memanfaatkan hidup ini sebaik-baihnya!!!

    ReplyDelete
  9. jangan kita sia-sia anugrah hidup ini dan sepatutnya kita mensyukurinya!!

    ReplyDelete

Terima kasih sahabat telah membaca artikel dari Blog Venus.
Semoga berkenan meninggalkan komentar dan dimohon untuk tidak meninggalkan SPAM di sini